jump to navigation

Belajar March 19, 2009

Posted by dzale in my heart.
trackback

Okey, langsung aja curhat. Sekarang aku lagi deket sama seseorang. Dia perhatian, care, baik sama aku. Hanya sayangnya, aku rada-rada gak sreg, nyaman, enjoy dalam menjalani hubungan ini. Udah hampir setahun jalan dan banyak masalah datang pergi silih berganti. Okey, memang penyebab semua masalah itu kebanyakan dari diriku sendiri. Ya posesiflah, gampang cemburuanlah, emosianlah, dsb. Pokoknya runyam. Kalo udah ada masalah, aku selalu pilih jalan menghindar. Diam. Tapi ternyata ini tidak menyelesaikan masalah. Justru tambah runyam masalahnya. Di sinilah letak kesalahanku.

Akhirnya seorang sahabat menyarankan agar aku lebih berani menghadapi kenyataan. Berani menatap keadaan. Bila orang itu memang begitu sifatnya, wataknya, karakternya. Tadinya aku berkeinginan, kalo enggak sesuai mauku, ya udah, sampai di sini aja. Ternyata bukan begitu. Aku harus menerima dia apa adanya dengan kondisi, sifat, sikap yang memang sudah begitu. Okey, saya akan coba.

Mengubah Cara Pandang

Selama ini saya menganggap dia hanya beban, sumber masalah. Lalu bagaimana jika dibalik. Artinya, bisa saja dia memang dikirim oleh Tuhan untuk mengabulkan doaku yang (katanya) tak pernah dicintai dan disayangi. Tuhan mengirimkan dia agar hatiku senang, tidak lagi minder, dan tidak larut dalam keputus asaan yang berlarut-larut.Di akhir masa studiku ini, Tuhan sengaja memberikan kado kecil kenang-kenangan tentang aku dan dia.  Selain itu, Tuhan Yang Maha Baik ingin agar aku percaya lagi pada cinta, setalah berkali-kali gagal dalam menjalaninya. “Ini lho, masih ada yang suka kamu, cinta, sayang kamu, li. Kamu jangan putus asa terus”.

Atau dia memang sengaja dikirim untuk memberikan pelajaran bagiku. bagaimana mengendalikan emosi, bersabar, bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis, percaya orang, dsb. Memang terkadang jalan hidup itu aneh. Kita baru tahu hikmah apa yang bisa dipelajari ketika kita telah mengalaminya. Bisa saja dia adalah salah satu titik point penting dalam menjalani hidupku nanti. Perkara nanti jadi apa tidak, ya aku belum tahu.

Rasa-rasanya pengen marah, emosi saat dia sak penake dewe, kemarin deket e h hari ini atau besok jauhnya. Kemarin manja-manjaan sekarang sok-sok an. Kemarin care, sekarang sibuknya minta ampun.Baik, care sama semua orang. Brrghh!!! Yah, melihat pengalaman itu mungkin ada baiknya koreksi diri. Dia memang begitu(sudah dari sananya) dan aku memang (mau gak mau) juga kudu nerima dia apa adanya. Gak mungkinlah aku bisa merubah dia sesuai mauku. It’s imposible alias muskil.

Last, aku mulai belajar satu hal. Melihat dia lebih luas lagi. Gak melulu hubunganku dengan dia saja. Okelah, seandainya gak jadi alias gagal tak mengapa. Yang terpenting hikmah apa yang bisa aku ambil dari hubungan ini. Jujur, saat ini aku masih emosian, cemburu, posesif, dsb. Apalagi kalo dia udah “macem-macem”. Semua butuh proses, dan terkadang proses itu memakan waktu yang tak sebentar.

ps: Aku percaya, mulai percaya bahwa antara aku dan kamu ada skenario yang memang telah sengaja diciptakan. Hanya saja, butuh waktu untuk memahami mengapa skenario ini begini, bukan begitu, seharusnya begini, bukan begitu. Dan memang, ada kemudahan dibalik kesulitan. Semangat ya, li.. ^_^

Comments»

1. Maharani - March 19, 2009

Semangat..semangat..
Layaknya kita pertama kali ngerti gimana caranya memfaktorkan polinomial berderajat dua..hanya kita sendiri yg tau kuncinya..setiap masalah adalah pemantik biar kita berusaha mencari solusi..

2. Maharani - March 20, 2009

Dibikin enak aja mz,,okey??